Subjek dan Objek Pajak

Pemahaman mengenai Subjek Pajak dan Objek Pajak merupakan pilar yuridis pertama dalam ilmu perpajakan. Tanpa terikatnya status subjek kepada suatu entitas dan belum terealisasinya penggabungan unsur penghasilan bertatus objek, negara tidak berkuasa menerbitkan hak penagihan hukum. BAB ini mengulas secara terperinci anatomi legal dari Pasal 2 dan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan s.t.d.t.d. UU Nomor 7 Tahun 2021 (UU HPP), yang diperjelas pelaksanaannya oleh Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022.


1. Konsep Dasar dan Anatomi Subjek Pajak (Pasal 2 UU PPh)

Subjek pajak adalah setiap pihak yang oleh undang-undang diberi kedudukan, kewajiban, serta potensi untuk dipungut pajak penghasilan. Subjek pajak bertransformasi secara legal menjadi Wajib Pajak (WP) sesaat setelah subjek tersebut menerima atau memperoleh penghasilan yang berada di atas batasan Kebutuhan Hidup Minimum (PTKP atau ambang batas bebas omzet).

Rincian Klasifikasi 4 Pilar Subjek Pajak

  • Orang Pribadi (OP):
    • Merupakan individu manusia sejati dari segi biologis dan hukum perdata, tidak meninjau umur ataupun status kewarganegaraannya.
    • Baik Warga Negara Indonesia (WNI) maupun Warga Negara Asing (WNA) yang hadir menginjakkan kaki atau menetap di Indonesia mengemban kedudukan potensial sebagai subjek pajak RI.
    • Identitas kewajibannya dipantau dalam sistem Coretax menggunakan kombinasi NIK 16 Digit yang bersertifikasi pada sistem administrasi kependudukan (sesuai PMK 81/2024).
  • Warisan yang Belum Terbagi sebagai Satu Kesatuan Menggantikan yang Berhak:
    • Merupakan subjek pajak pengganti (Substitutive Tax Subject) yang bersifat sementara.
    • Ketika seorang Wajib Pajak Orang Pribadi meninggal dunia dan meninggalkan harta benda yang menghasilkan pendapatan (misal: ruko sewa, deposito berbunga, atau deviden dari portofolio saham), maka selama harta tersebut belum sah dibagikan di hadapan hukum kepada ahli warisnya, kewajiban pelaporan dan pelunasan pajaknya diwajibkan dikendalikan di atas satu identitas kesatuan atas nama Pewaris.
    • Akun pelaporan SPT tetap memanfaatkan nomor identitas (NPWP/NIK lama) milik pewaris yang meninggal, dengan pelaksana tanggung jawab jatuh kepada pelaksana wasiat atau salah satu perwakilan ahli waris. Setelah harta dibagikan secara putus ketat, eksistensi subjek warisan belum terbagi resmi berakhir dan kewajiban atas perolehan laba melompat beralih ke masing-masing dokumen pajak ahli waris.
  • Badan Usaha atau Perkumpulan Modal:
    • Merupakan sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan hukum atau komersial, baik yang melakukan aktivitas kegiatan usaha produktif maupun yang tidak melakukan aktivitas usaha.
    • Meliputi spektrum organisasi yang luas: Perseroan Terbatas (PT), Perseroan Komanditer (CV), Perseroan Lainnya, Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD), Firma, Kongsi, Koperasi, Dana Pensiun, Persekutuan, Perkumpulan, Yayasan, Organisasi Massa, Lembaga, hingga Kontrak Reksa Dana dan Bentuk Badan Lainnya.
  • Bentuk Usaha Tetap (BUT / Permanent Establishment):
    • Merupakan instrumen kepanjangan tangan yang dipergunakan oleh Subjek Pajak Luar Negeri (OP Asing non-domisili atau Korporasi Asing di luar wilayah RI) untuk menjalankan kegiatan bisnis atau melakukan transaksi terutang secara fisik maupun digital dari dalam wilayah Indonesia.
    • Meskipun asal akomodasi modalnya berpokok dari luar negeri, dalam hukum perpajakan Indonesia, Bentuk Usaha Tetap DIPERLAKUKAN SETARA DENGAN WAJIB PAJAK BADAN DALAM NEGERI, sehingga kewajibannya tunduk menyelenggarakan Pembukuan Penuh, memungut potput e-Bupot, serta melunasi tagihan tarif pajak normal 22% atas labanya!

2. Bedah Eksplorasi Pengujian SPDN vs SPLN (PP 55/2022)

Pemisahan subjek hukum hukum menjadi Subjek Pajak Dalam Negeri (SPDN) berbanding Subjek Pajak Luar Negeri (SPLN) memiliki implikasi tarif dan filosofi pengakuan laba yang sangat jauh kontras. Berdasarkan Pasal 2 ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) UU PPh yang diperkuat pedoman penjabaran pada BAB II Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022, kepengurusan status didominasi oleh tiga metode pengujian pasti:

graph TD
  Start["Uji Subjek Pajak Orang Pribadi (WNI / WNA)"] --> Test1{"Apakah tinggal atau bermaksud tinggal di RI?"}
  Test1 -->|"Ya (Milik Rumah / Domisili / Visa Kerja)"| SPDN["SUBJEK PAJAK DALAM NEGERI (SPDN)"]
  Test1 -->|"Tidak yakin"| Test2{"Uji Waktu: Apakah hadir > 183 Hari dalam jangka 12 bulan?"}
  Test2 -->|"Ya (> 183 Hari)"| SPDN
  Test2 -->|"Tidak (< 183 Hari)"| SPLN["SUBJEK PAJAK LUAR NEGERI (SPLN)"]
  SPDN --> Asas1["Worldwide Income (Tarif Progresif / Netto + Wajib Lapor SPT)"]
  SPLN --> Asas2["Source State Income RI (Tarif Final PPh 26 Gross 20% + Bebas Lapor SPT)"]

Kriteria dan Hukum Subjek Pajak Dalam Negeri (SPDN)

  • Kualifikasi Subjek SPDN:
    1. Orang Pribadi: Individu yang bertempat tinggal di Indonesia, ATAUPUN berada di Indonesia melampaui kurun waktu 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, ATAUPUN individu yang dalam suatu tahun pajak menginjakkan kaki di Indonesia dan mempunyai niat sungkan untuk bertempat tinggal di wilayah Indonesia. (Niat dapat dibuktikan secara administratif melalui kepemilikan visa kerja berjangka panjang, kartu domisili KITAS/KITAP, perjanjian sewa tempat tinggal di atas 1 tahun, atau perpindahan pusat kepentingan ekonomi ke RI).
    2. Badan Usaha: Entitas hukum yang dibentuk, didirikan, atau berkedudukan di Indonesia (memiliki alamat pendaftaran akta di Kementerian Hukum dan HAM atau menempatkan Kantor Manajemen Kepemilikan Utama di Indonesia).
    3. Warisan Belum Terbagi: Berstatus dalam negeri jika meninggalnya pewaris dahulu berposisi sebagai SPDN.
  • Asas Pemajakan SPDN:
    • Mengadopsi prinsip Worldwide Income: Seluruh penghasilan yang diterima atau diperoleh dari sumber dalam wilayah Indonesia MAUPUN dari luar negeri wajib dikumpulkan dihitung menjadi satu kesatuan di dalam laporan tahunan pajak!
    • Perhitungan PPh dilakukan berdasarkan Penghasilan Netto (Bruto dikurangi Biaya-biaya ber-hak dipaksa / Deductible) dengan mengibarkan tarif berlapis Tarif Progresif Pasal 17 ayat 1 huruf a untuk Orang Pribadi atau Tarif Badan 22%.
    • Diwajibkan mutlak untuk menyuntikkan dokumen Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan ke portal Coretax pada penutup masa pajak.

Kriteria dan Hukum Subjek Pajak Luar Negeri (SPLN)

  • Kualifikasi Subjek SPLN:
    1. Orang Pribadi: Individu WNA ataupun WNI yang berada di wilayah Republik Indonesia berdurasi kurang dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan yang berkelanjutan.
    2. Badan Usaha Asing: Entitas korporasi yang didirikan dan berkedudukan sah di luar Indonesia yang memuat atau memperoleh penghasilan dari wilayah Indonesia tanpa melalui jalur pendirian BUT fisik.
    3. Keistimewaan Revolusi WNI di Luar Negeri (PP 55/2022 Pasal 4):
      • WNI yang bertolak berkarir dan bermukim di luar negeri secara terus-menerus melebihi masa 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan diberikan kemudahan untuk BERALIH STATUS MENJADI SPLN.
      • Syarat Kepatuhan Hukum WNI SPLN: Berhasil mengajukan dan memperoleh dokumen persetujuan resmi berupa Surat Keterangan WNI Memenuhi Persyaratan Menjadi Subjek Pajak Luar Negeri (SKPLN) dari Direktorat Jenderal Pajak!
      • Setelah melakukan status SPLN, WNI tersebut merdeka dari tuntutan pelaporan SPT RI atas pendapatan kas gajinya di luar negeri, menghindari ketidakadilan pajak ganda internasional.
  • Asas Pemajakan SPLN:
    • Mengadopsi prinsip Source State Taxation: Negara Indonesia hanya berkuasa memajaki arus uang atau dividen/jasa yang benar-benar bersumber langsung dari pengeluaran pasar di dalam wilayah Indonesia.
    • Pemungutan dieksekusi secara instan dari atas nilai Penghasilan Bruto (tanpa toleransi pengurangan biaya apapun) oleh pihak pembayar di Indonesia lewat mekanisme potput PPh Pasal 26 Bersifat Final dengan tarif tetap 20% (atau tarif potongan yang lebih ringan bila dipayungi kesepakatan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda / Tax Treaty / P3B yang sah dengan surat kelayakan DGT).
    • SPLN Dibebaskan sepenuhnya dari keharusan merapat mengisi dan melaporkan SPT Tahunan RI.

3. Bedah Tuntas Anatomi Objek Pajak (Pasal 4 UU PPh)

Hukum pajak Indonesia memformulasikan spektrum penetapan objek pajak menjadi tiga lapisan ketentuan hukum yang berantai berjenjang di dalam Pasal 4 Undang-Undang Pajak Penghasilan:

1. Definisi Komprehensif Objek Pajak (Pasal 4 Ayat 1)

Objek pajak adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun (Income from Whatever Source Derived / Broad Concept of Income).

  • Empat Pilar Utama Kelompok Penghasilan:
    1. Penghasilan dari Pekerjaan atau Jasa: Mengikat segala bentuk pembayaran kompensasi SDM, mencakup gaji, upah, honorarium, komisi, bonus, uang gratifikasi, uang pensiun, uang saku seminar, uang lembur, serta pemberian hak imbalan non-kas dalam bentuk Natura dan/atau Kenikmatan (sesuai PMK 66/2023).
    2. Penghasilan dari Kegiatan Usaha (Business Profits): Penyerahan barang komersial komoditi dagangan, jasa perbaikan profesional, produksi manufaktur, hingga perputaran laba operasional dagang digital/konvensional.
    3. Penghasilan atas Pemanfaatan Modal (Passive / Investment Income): Bunga atas pinjaman piutang dan deposito, dividen (yang tidak memenuhi syarat pengecualian), imbalan royalti hak kekayaan intelektual/teknologi, serta pendapatan sewa atas pendayagunaan harta selain properti tanah dan bangunan.
    4. Penghasilan dari Keuntungan Pengalihan Harta (Capital Gain): Laba kenaikan harga perolehan karena penjualan, pengucuran penggabungan, peleburan, pemecahan, ataupun likuidasi usaha perseroan yang dihargai mengalikan nilai pasar sah di luar dari keringanan nilai buku persetujuan DJP.

2. Penghasilan Bersifat Final (Pasal 4 Ayat 2 jo. PP 55/2022)

Penghasilan spesifik yang pungutan pajaknya langsung diakhiri selesai terbayar tuntas seketika pemotongan eksternal disetor oleh pihak pemegang uang, demi mempertinggi kecepatan penerimaan kas dan menyetir kesederhanaan administrasi pencatatan.

3. Penghasilan Dikecualikan / Bukan Objek Pajak (Pasal 4 Ayat 3 jo. PP 55/2022)

Penghasilan yang secara otentik dicoret dari klasifikasi perpajakan umum, sehingga penerimaannya bebas murni dari pengakuan piutang pajak progresif tahunan maupun kewajiban potput pemotongan pihak ketiga:

  • Bantuan, Sumbangan, dan Zakat: Beranggotakan uang ataupun barang fisik berharga yang disebarkan kepada lembaga keagamaan resmi pemerintah, dengan ketentua tidak boleh tercipta kaitan relasi transaksi kerja, pertambalan usaha, pemegang kepemilikan saham, atau penguasaan korporat antar pemi modal terkait.
  • Warisan dan Hibah Keluarga: Harta peninggalan waris serta hibah modal tunai dari keluarga kandung dalam garis keturunan lurus satu derajat (orang tua kandung kepada anak kandung ataupun arah sebaliknya) serta yayasan pendidikan/panti yang dilegalkan Kementerian Keuangan.
  • Bagian Laba Perseroan Tanpa Saham: Uang kas pengambilan prive maupun laba dividen usaha yang didapati dari keanggotaan perseroan komanditer (CV) yang modalnya ditekui tidak terbagi atas saham, firma, kongsi hukum, ataupun persekutuan perdata (Pasal 4 ayat 3 huruf i).
  • Klaim Pencairan Polis Asuransi: Seluruh klaim uang tunai santunan pembayaran yang diterbangkan oleh perseroan asuransi ke tangan Wajib Pajak Orang Pribadi dalam pertanggungan Asuransi Kesehatan, Kecelakaan, Jiwa, Dwiguna, dan Asuransi Beasiswa.
  • Revolusi Pembebasan Dividen (PP 55/2022 jo. PMK 164 Tahun 2023):
    • Di dalam regulasi hukum Undang-Undang HPP terkini, pendapatan dari bagi hasil dividen mengalami terobosan pelonggaran dramatis:
Penerima Dividen Dalam Negeri RISyarat Hukum Pembebasan 100% PPh (Bukan Objek Pajak)Konsekuensi Jika Syarat Terlanggar / Dilalaikan
Wajib Pajak Badan RI (PT ke PT)DIBEBASKAN SEPENUHNYA Tanpa Syarat Apapun!
Tidak lagi diberlakukan batasan kepemilikan persentase minimum kepengurusan 25% saham, dan tidak ditunjuk kewajiban melucuti reinvestasi modal kembali. Selama dividen cair bersumber dari entitas persero PT Dalam Negeri, pungutan PPh Final mutlak = Rp0 (0%).
Jika dividen bersumber dari luar negeri tapi gagal diinvestasikan sebesar proporsi dividen laba lepasnya, porsinya berbalik dikaji terkena pajak reguler laba Badan umum 22%!
Wajib Pajak Orang Pribadi RI (WPOP)Dapat DIBEBASKAN 100% dari potongan pembebanan PPh Final 10% DENGAN SYARAT KETAT:
1. Seluruh uang kas dividen yang diterima harus DIINVESTASIKAN KEMBALI ke dalam instrumen pasar keuangan atau sektor usaha riil di wilayah Republik Indonesia (misal: SBN RI, Obligasi Korporat lokal, Reksa Dana, Deposito Bank RI, atau pembelian aset produksi usaha riil).
2. Investasi modal tersebut wajib dipertahankan (dilarang dicairkan untuk dikonsumsi keluar) paling singkat berdurasi selama 3 (tiga) Tahun Pajak sejak saat dividen dibaptikan diterima!
3. Wajib menyampaian laporan tahunan pertanggungjawaban realisasi reinvestasi melalui portal Coretax System selaras panduan teknis PMK 164/2023.
Apabila uang kas dividen diputar untuk keperluan belanja konsumsi pribadi (atau diinvestasikan kurang dari batas ketentuan waktu 3 tahun), maka atas porsi rupiah dividen yang keliru tidak diinvestasikan tersebut WAJIB DISERTAKAN SETOR MANDIRI PPh Pasal 4 ayat (2) Final tarif 10% oleh rekening pribadi orang tersebut ke KPP setempat!

4. Implikasi bagi Ujian dan Rekonsiliasi Fiskal

  • Identifikasi Kasus Praktikum Akuntansi:
    • Apabila di dalam Laporan Laba Rugi Komersial akuntansi terdapat penerimaan akun “Pendapatan Dividen dari PT Anak”, periksa dengan akurat status kepatuhan penerima pajaknya.
    • Jika penerima berstatus sebagai WP Badan Usaha PT, maka pembagian uang rugi laba tersebut memenuhi kategori Bukan Objek Pajak dan wajib diselaputi koreksi kebawah dengan melaksanakan Koreksi Fiskal Negatif Beda Tetap (-).
    • Atas setiap beban kas bunga atau biaya konsultasi investasi hukum yang dibayar demi mengurusi dividen non-objek pajak tersebut, perseroan diinstruksikan menolak biayanya secara komersial dengan melaksanakan Koreksi Fiskal Positif (+), bersesuaian dengan larangan efisiensi akuntansi pada Pasal 9 ayat (1) huruf h UU PPh!

5. Matriks Rujukan Cepat: Objek & Bukan Objek Pajak

Rujukan Cepat PPh: Objek vs Bukan Objek

Pemisahan antara Objek Pajak (Pasal 4 ayat 1), PPh Final (Pasal 4 ayat 2), dan Bukan Objek Pajak (Pasal 4 ayat 3) merupakan fondasi utama dalam penghitungan Pajak Kini di Akuntansi Perpajakan dan strategi pemanfaatan insentif hukum di Perencanaan Pajak (Tax Planning Lapis Laba & Entitas).

Daftar Objek Pajak Penghasilan (Tarif Normal / Umum)

Jenis PenghasilanKeterangan & Aturan PenerapanDasar Hukum Spesifik
Gaji, Upah, Honorarium, Bonus, GratifikasiSeluruh penghasilan dari pekerjaan atau jasa yang diterima Wajib Pajak Orang Pribadi (dikenakan pemotongan PPh Pasal 21 / TER).UU PPh Pasal 4 ayat (1) huruf a jo. PP 58/2023 Pasal 2
Natura dan/atau Kenikmatan (Benefit-in-Kind)Pasca-UU HPP, pemberian dalam bentuk natura dari kantor diubah menjadi Objek Pajak PPh 21, kecuali masuk dalam 12 pengecualian di PMK 66/2023.UU PPh Pasal 4 ayat (1) huruf a jo. PMK 66/2023 Pasal 4 & 5
Laba Usaha (Dagang, Industri, Konsultan)Setiap tambahan kemampuan ekonomis dari kegiatan operasional komersial dunia usaha.UU PPh Pasal 4 ayat (1) huruf c
Keuntungan Pengalihan Aset (Capital Gain)Keuntungan yang diperoleh saat perseroan menjual, mengalihkan, atau melikuidasi aktiva operasional/saham di atas nilai buku fiskal.UU PPh Pasal 4 ayat (1) huruf d
Bunga (Selain Bank/Deposito RI), Royalti, & Sewa Non-PropertiPenerimaan dari hak cipta, merek, peminjaman modal antar anak perusahaan (non-bank), serta sewa atas kendaraan/mesin/alat (dipotong PPh Pasal 23 15% / 2%).UU PPh Pasal 4 ayat (1) huruf f, h, dan i jo. PMK 141/2015
Penerimaan Kembali Pajak yang Telah DibiayakanPengembalian rugi (restitusi) atau pajak daerah/PBB yang pada tahun sebelumnya sudah diaku dan dikurangkan sebagai Deductible Expense di SPT.UU PPh Pasal 4 ayat (1) huruf e
Keuntungan Selisih Kurs Mata Uang AsingKeuntungan nyata atas realisasi transaksi berdenominasi valas (mata uang asing) maupun translasi saldo akhir tahun sesuai standar stelsel taat asas.UU PPh Pasal 4 ayat (1) huruf l

Daftar Bukan Objek Pajak (BOP) Penghasilan (Pasal 4 Ayat 3)

Jenis Penghasilan / PengecualianBatasan Syarat agar Tetap BOPDampak Rekonsiliasi Fiskal AkuntansiDasar Hukum Spesifik
WarisanBebas pajak abadi 100%, dengan syarat harta warisan tersebut telah terlaporkan di SPT Tahunan Pewaris dan utang kewajiban pewaris telah lunas dipenuhi.Koreksi Fiskal Negatif (Beda Tetap) jika sempat tercantum di pendapatan lain.UU PPh Pasal 4 ayat (3) huruf b
Hibah & Bantuan sedarah 1 (Satu) Derajat LurusHibah kepada orang tua, anak kandung, atau badan keagamaan/pendidikan/koperasi yang ditetapkan Menkeu, DENGAN SYARAT tidak punya ikatan hubungan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antar para pihak.Koreksi Fiskal Negatif (Beda Tetap) di bawah PSAK 46.UU PPh Pasal 4 ayat (3) huruf a angka 2 jo. PMK 258/2008
Dividen antar-PT Dalam NegeriSeluruh dividen yang diakuisisi oleh Perseroan Terbatas (PT) Dalam Negeri, Koperasi, BUMN/BUMD 100% BEBAS PAJAK (0%), TANPA SYARAT batasan kepemilikan saham! (Pasca UU HPP).Koreksi Fiskal Negatif (Beda Tetap). Dikeluarkan dari pembubuhan Laba Rugi Komersial.UU PPh Pasal 4 ayat (3) huruf f angka 1 jo. UU HPP Pasal 3
Dividen bagi WP Orang Pribadi (Syarat Reinvestasi)Dividen yang didapatkan Orang Pribadi (OP) RI BEBAS dari potongan PPh Final 10%, HANYA JIKA penerima mereinvestasikan (menanamkan kembali) dana dividen tersebut di wilayah NKRI minimal 3 Tahun Pajak berturut-turut!Penghematan pajak fantastis pada tingkat pribadi pemilik usaha (Lapis Entitas Tax Planning).UU PPh Pasal 4 ayat (3) huruf f angka 2 jo. PP 55/2022 Pasal 33-35
Bagian Laba Sekutu CV / Firma / PersekutuanPengambilan laba (Prive / Bagian Laba) dari CV, Firma, atau Kongsi yang modalnya TIDAK terbagi atas saham, 100% dijamin sebagai Bukan Objek Pajak.Kunci pemilihan hukum badan usaha (Mengapa konsultan & klinik medis senang membuat CV/Firma!).UU PPh Pasal 4 ayat (3) huruf i
Setoran Modal / Saham dari PengusahaUang tunai atau aset barang yang diamanatkan pemilik masuk ke perusahaan sebagai pengganti saham atau penyertaan modal perseroan.Tidak mengganggu Laba Rugi; dicatat pada pos Ekuitas neraca modal komersial.UU PPh Pasal 4 ayat (3) huruf c
Santunan Klaim Asuransi Jiwa, Kesehatan, & KecelakaanPembayaran klaim pencairan santunan asuransi jiwa, kecelakaan, dwiguna, dan bea siswa kepada individu WP yang bermusibah.Bebas dari jangkauan potput PPh 21 / PPh 23 dari pihak pemberi premi.UU PPh Pasal 4 ayat (3) huruf e
Sisa Lebih Lembaga Pendidikan & Litbang NirlabaLaba sisa operasional kampus/sekolah/yayasan nirlaba Bebas dari PPh Badan, asal ditanamkan kembali (untuk pembangunan gedung/laboratorium/beasiswa) paling lambat dalam durasi 4 (empat) tahun berturut-turut.Bila lewat dari 4 tahun tidak dihabiskan untuk fasilitas bangunan/pendidikan, langsung disengaja sebagai PKP Badan 22%.UU PPh Pasal 4 ayat (3) huruf m jo. PMK 68/2020 Pasal 2 dan 4
Natura & Kenikmatan Tertentu (Makan Kantor, APD)Fasilitas makan siang kantor, kupon Rp 350rb dinas luar, hunian di daerah tertentu terpencil (site tambang/kebun), APD keselamatan K3, dan laptop/ponsel operasional.Bebas dari PPh 21 pegawai, namun 100% BISA DIBEBANKAN (Deductible) di rekening SPT PPh Badan perusahaan.PMK 66/2023 Pasal 4 dan Pasal 5 jo. UU PPh Pasal 4 ayat (3) huruf d

Dasar Hukum